Skip navigation

Saya masih ingat beberapa tahun yang lalu saat orangtua saya baru datang dikelurahan Sarua, atau tepatnya dikomplek perumahan Bukit Indah. Saat itu lingkungan disekitar sini masih sangat sepi. Mungkin hanya ada beberapa komplek perumahan yang ada dan kebanyakan relatif tidak terlalu luas. Saat itu, komplek perumahan Gama Setia, Wira Makmur, dan Pamulang II saja belum ada. Yang saya ingat, mungkin hanya BSD yang waktu itu baru mulai dikembangkan.

Saat itu, masih banyak hutan pohon karet disekitar rumah yang saya dan teman2x jadikan sebagai tempat untuk bermain, tempat dimana kami biasa mencari biji karet untuk diadu, tempat dimana kami bersembunyi dari kejaran orang tua yang menyuruh kami untuk tidur siang atau belajar. Ahhh, saya kangen saat2x itu.

Kini, 22 tahun kemudian, saya masih tinggal diwilayah yang sama dengan masa kecil saya itu. Walaupun tentu saja bukan dirumah yang sama dengan waktu itu. Namun kini keadaan lingkungan disini sudah banyak berubah. Sudah banyak komplek2x perumahan baru yang berdiri seiring dengan perkembangan BSD yang sepertinya menjadi barometer perkembangan wilayah disektar sini. Hutan2x pohon karet yang dulu menjadi ‘markas’ saya dan teman2x sudah mulai hilang. Pohon2x yang dulu menjadi tempat saya bersembunyi sudah tidak terlihat lagi. Imbas yang paling terasa adalah makin panasnya udara yang saya hirup.

Saya menjadi merasa dipenjara. Dipenjara didalam kungkungan komplek2x perumahan modern yang melingkupi. Saya menjadi kasihan dengan anak2x saya yang tidak sempat untuk menikmati sejuknya udara dan makin sempitnya ruang untuk mereka bermain. Saya menjadi kuatir dengan perkembangan jiwa dan wawasan mereka ditengah kepungan tembok beton dan licinnya aspal. Apakah mereka masih bisa menikmati hidup seperti waktu saya kecil dulu ???

Sempat terpikir untuk ‘hijrah’ ketempat lain yang masih asri. Tempat dimana pepohonan masih gagah berdiri dan air sungai masih bening mengalir. Ahh, Padalarang sepertinya menjadi tempat yang menarik untuk ditempati. Tapi bagaimana saya bisa hidup disana apabila tidak ada akses intenet yang bisa menghubungkan saya dengan dunia. Tidak ada coffee shop yang bisa saya nikmati cappuccino-nya. Tidak ada mall yang menjadi tempat rekreasi saya dan keluarga. Tidak ada super market untuk istri saya belanja. Argh, ternyata tidak ada apa2x disana, selain hutan dan sungai.

Akhirnya saya hanya bisa menghela nafas sambil berkata kepada diri sendiri, “Saya, manusia yang harus beradaptasi”.

11 Comments

  1. jadi inget masa kecil dulu neh oom. Dulu masih banyak lapangan luas untuk bermain, masih banyak sawah untuk mencari ikan. Tapi sekarang semuanya sudah berubah menjadi perumahan. Anak-anak tidak lagi mempunyai tempat bermain dan akhirnya mereka bermain di jalan yang tentu saja membahayakan keselamatan mereka.

  2. jangankan 22 tahun, 5 taun yang lalu saja saat saya dateng ke tangerang, sekitar rumah masih banyak lahan kosong, sekarang sudah penuh sama pabrik dan kontrakanšŸ™‚

  3. hahaha jadi inget lagu iwan fals…. ujung aspal pondok gede.
    Pembangunan di Jakarta terlalu rapid, atau terkesan tergesa – gesa sampai akhirnya tata kota berantakan, jalur hijau makin langka… coba bandingin aja, buka googlemap, cari jakarta… jalanan nya semrawut, begitu juga rumahnya, bis itu buka jepang… cari beppu, or tokyo, liat rumah nya, rapih… dan daerah komersil sendiri… mungkin para penata kota harus belajar maen simcity dulu baru diangkat….

  4. @away
    yoi bro, makanya saya sering kuatir kalo anak2x saya main diluar rumah tanpa pengawasan
    @harry
    wuiiih, 5 tahun ternyata dah banyak yg berubah ya
    @suprie
    kayanya loe musti mulai ajarin pemda main simcity deh prof.. hehehe

  5. jadi inget hard line.

  6. Hmm… setelah lama tidak melewati rute ciater raya maka saya tadi pagi lewat sana. Buset dah, makin banyak saja komplek perumahan yang namanya make regency.

    Daerah resapan air akan makin banyak hilang. Bener kata Sampeyan, anak-anak tidak akan dapat lagi menikmati udara bersih. Alam yang asri pun akan hilang.

    Akan tetapi, apakah pembangunan komplek perumahan harus dilarang?

  7. @payjo
    ‘hard line’ apa sih bro ? hehehe maklum katro

    @kombor
    iya mas, makin banyak perumahan disini… jadi panas karena pohon udh mulai jarang.
    Kalo perumahan dilarang dibangun, nanti orng2x tinggal dimana ?

  8. setujuuuuu…………

  9. Duh.. puitisnya ‘gambarin masa lalunya…

  10. rumah saya di bandung, deket lembang pulax…
    masa abis mandi sore udah kringetan lagi…
    (nyambung ga ya??? :p)

  11. @syam
    padahal gw nda ada niat ‘puitis’ loh…
    @sezsy
    sambung2xin aja lah … btw, sampai ketemu kopdar bln depan ya…


One Trackback/Pingback

  1. By Ini apa yah ??? « suprie donk bikin blog on 24 Jan 2008 at 2:17 pm

    […] yah ??? January 24, 2008, 2:17 pm Filed under: curhat Lagi isenk tadi buka googlemap gara dia, pengen ngebandingin gimana sih tata kota di Jakarta di bandingin sama Jepang, tapi dapet nya malah […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: