Skip navigation

Baru saja saya selesai nonton film The Terminal yang diperankan oleh Tom Hanks. Saya dapat rekomendasi dari teman saya untuk nonton, karena katanya film ini mungkin bisa memberikan saya inspirasi. Dan ternyata memang benar. Banyak sekali nilai2x yang bisa saya ambil dari film ini. Namun nilai yang paling berkesan dalam benak saya adalah sesuatu yang akhirnya menjadi judul dari artikel ini.

Film drama yang di release pada tahun 2004 ini diiawali dengan kedatangan Viktor Navorski (Tom Hanks) dibandara internasional JFK, New York. Victor, adalah seorang pria yang datang dari suatu negara fiksi yang bernama Krakozhia untuk bertemu dengan seorang pemain saxophone yang terkenal, yaitu Benny Golson . Alasan kenapa Viktor ingin bertemu dengan Benny adalah untuk menunaikan janjinya kepada ayahnya untuk mendapatkan tanda tangan Benany agar ‘koleksi’ tanda tangan pemain Jazz yang dikumpulkannya menjadi lengkap.

Namun, niat Viktor untuk mendapatkan tanda tangan tersebut terhalang suatu permasalahan yang kompleks, arena disat yang sama dengan kedatangannya di USA, ternyata terjadi suatu kudeta di Krakozhia, yang mengakibatkan segala kelengkapan administrasinya tidak diakui oleh pemerintah Amerika Serikat. Hal in menyebabkan dia terjebak didalam bandara tersebut karena tidak bisa mendapatkan visa kunjungan untuk keluar bandara dan sekaligus jg tidak bisa pulang kenegeri nya karena tiket dan pasport miliknya diambil oleh petugas bandara. Dari sinilah cerita Viktor diterminal bandara itu dimulai.

Bisakan anda membayangkan apabila anda terjebak disuatu tempat yang anda belum pernah sama sekali kesana, anda juga tidak mengerti bahasa yang digunakan oleh orang2x ditempat itu, juga tidak adanya kepedulian orang2x ditempat itu untuk membantu anda karena kesibukan mereka masing2x? Kalo itu blm cukup, bagaimana disaat yang sama anda tidak memiliki siapapun yang bisa anda hubungi untuk, katakanlah, hanya untuk berkeluh kesah ? Bagaimana juga pada saat itu, anda tidak mempunyai uang sepersenpun untuk makan/minum? Entah bagaimana jadinya saya kalau saya sendiri yang berada pada situasi seperti itu.

Dari sini mulailah nilai pertama akan muncul. “Kejujuran” . Disaat Viktor ‘disarankan’ untuk melanggar hukum dengan cara diam2x keluar dari bandara, dia justru memilih bersikap jujur dan patuh terhadap hukum walaupun hukum itu mengekang kebebasannya.

Nah, sekarang bangaimana dengan rasa lapar ? Apa yang anda lakukan apabila anda lapar ? Makan ? Tentu aja kan. Kalau nda punya uang ? Tentu aja kerja. Gimana kalau anda tidak bisa bekerja untuk mendapatkan uang dan makan ? Ngemis / Mencuri / Merampok ?!?!?! Sebagian orang disekitar kita akan mengambil jalan itu dengan alasan TERPAKSA. Wah kalo jalan itu yang diambil oleh Viktor, film itu menjadi tidak berarti donk. “Kreatifitas” Itulah jalan yang diambil oleh Viktor. Dengan keterbatasannya, dia melihat PELUANG untuk mendapatkan uang dengan cara membereskan kereta troli dengan hasil ‘upah’ 25 cent per kereta. Anda lihat ? Dia memilih jalan terhormat untuk mendapatkan apa yang dia butuhkan sekaligus membantu orang lain. 25 cent yang bagi sebagian besar orang mungkin tidak bermakna, ditangan Viktor uang segitu bisa membuat perutnya yang kelaparan menjadi kenyang. *tepuk tangan*

Want to learn“. Masih ingat bahwa Viktor tidak bisa bahasa inggris saat sampai ke USA ? Ada hambatan bahasa antara dia dengan orang lain yang menyebabkan dia tidak bisa berkomunikasi dan memperoleh informasi. Lalu apa dia menyewa translator ? Walah, untuk makan aja sulit, boro2x mikir nyewa profesional :-d . Dia BELAJAR. Dia belajar bahasa inggris secara otodidak dengan cara membeli dua buah buku yang sama persis namun yang satu berbahasa Inggris dan lainnya (mungkin) berbahasa Rusia. Dia mencocokan setiap halaman dari 2 buku tersebut untuk mempelajari kata2x bahasa inggris. *wow*

Ada adegan lucu yang terjadi saat Viktor secara berulang-ulang kali keloket imigrasi untuk meminta visa. Karena dia tidak memegang passport, tentu saja visa tidak bisa dikeluarkan. Namun dia tetap bersikukuh untuk terus meminta visa tersebut sehingga petugas yang melayaninya bertanya kenapa Viktor terus menerus meminta visa, padahal Viktor pun tahu kalau permintaannya pasti ditolak sampai negaranya diakui kembali oleh pemerintah USA. Apa jawaban yang dikemukakan oleh Viktor ? Dia mengatakan

You have two stamp. One red, one Green. So, I have chance to go New York 50-50

Haaah ….. Kalo bagi sebagian orang lain, jawaban itu adalah jawaban yang konyol kalo tidak bisa dibilang bodoh. Namun bagi saya jawaban itu mempunyai nilai yang spesial, yaitu “Think Simple“. Saya belajar, bahwa hanya orang jenius saja yang bisa menemukan solusi sebuah masalah dengan cara yang sangat sederhana. Sampai sekarang hanya Einstein yang bisa merumuskan bahwa energi itu (hanya) berasal dari massa materi yang dikalikan dengan kuadrat kecepatan cahaya. Sampai sekarang saya belum menemukan rumus fisika lain yang lebih sederhana dari ini sekaligus memberikan dampak yang besar bagi umat manusia.

Saya bisa bilang kalo rasa “Nasionalisme” saya kuat. Saya bisa bilang kalo saya sangat mencintai negeri Indonesia ini. Tapi apa buktinya ? Kadang saya bilang “Indonesia begini”, “Indonesia begitu”, “Yah, wajarlah namanya jg orang Indonesia”. Apakah saya masih bisa bilang kalo saya mencintai negeri ini, sementara saya selalu menyamakan hal2x yang negatif dengan negeri saya ? Itu baru apa yang terucap, apalagi yang ada dihati. Saat Viktor diminta untuk ‘menjelekkan’ negerinya agar bisa diurus menjadi pendatang dan bisa keluar dari bandara, dia malah marah sambil bilang “Krakozhia is home. I not afraid from my home“. Entah apa yang akan saya katakan jika saya berada diposisi dia saat itu.

Cerita kemudian terus berlanjut dengan pertemuannya dengan seorang pramugari nan cantik jelita. Namun saya lg nda mood cerita soal percintaan. So, bagian ini akan saya lewatkan aja kecuali bahwa saya sering mendapati perempuan2x seperti ini, dan akhir hubungannya dengan Viktor sangat-sangat mudah ketebak. But, yang namanya laki2x kan emang nda pernah rugi disituasi seperti ini kan ya ? :-p

Menepati Janji“. Akhir cerita adalah saat berita bahwa kudeta yag terjadi dinegaranya sudah berakhir dan negaranya sudah diakui kembali oleh pemerintah USA. Pada momen ini, Viktor dihadapkan pada 2 pilihan, yaitu langsung pulang kenegaranya atau nekat menemui Benny untuk meminta tanda tangannya. Ini adalah keputusan yang sangat sulit karena apabila dia nekat untuk pergi menemui Benny, maka besar kemungkinan dia akan ketinggalan pesawat dan mungkin akan sulit lagi untuk pulang. Namun, janji kepada ayahnya lah yang membuatnya memilih untuk menemui Benny dan menunaikan janjinya itu.

Entah apakah akhirnya dia bisa mengejar pesawatnya untuk pulang atau tidak. Tapi walau bagaimanapun akhir ceritanya, Viktor telah telah belajar menjadi MANUSIA selama 9 bulan hidupnya dibandara itu.

2 Comments

  1. pertamax….
    pinjem filmnya donk tar baru saya komen lagi😀

  2. @daniel
    tar gw bawa kekontrakan ya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: