Skip navigation

Barusan saya bertengkar dengan istri saya. Seperti halnya rumah tangga yang lain, pertengkaran yang kami alami ini adalah hal yang lumrah. Hampir semua pasangan, kalau tidak bisa dibilang semua, pasti pernah mengalami pertengkaran yang hebat. Namun mungkin tidak semua orang bisa memahami kenapa sebuah pertengkaran itu bisa terjadi. Dan tidak semua orang bisa memahami bagaimana menghindari pertengkaran.

Yang kami alami barusan adalah sebuah pertengkaran hebat yang didasari karena dia dan anak saya baru pulang rumah selepas magrib. Padahal, aturan yang kami buat adalah mengharuskan setiap anggota keluarga untuk sudah berada dirumah sebelum azan magrib. Kecuali jika terpaksa dan itupun harus bilang kesaya sebelumnya. Ingat, bukan minta ijin … namun saya hanya minta untuk bilang.

Memang, dia dan anak saya sebetulnya sedang dirumah orang tua saya untuk main. Memang juga bahwa saya sengaja tidak telp untuk mengingatkannya. Tapi hal itu bukan alasan untuk mengabaikan aturan yang sudah disepakati.

Nah, setelah dia sampai rumah, sudah pasti saya tanyakan dan tegur kenapa bisa sampai rumah lewat dari waktu magrib dan juga tidak telp saya untuk bilang kalau pulang akan sesudah magrib. Alih2x meminta maaf dan menjelaskan kondisinya dia malah diam. Dia diam hingga kesabaran saya habis dan mulai meninggikan volume suara dengan pertanyaan yang masih sama dengan sebelumnya. Saat suara saya sudah meninggi akhirnya keluar juga kata2x dari mulutnya. Namun herannya, bukan permintaan maaf atau penjelasan seperti yang saya tanyakan, namun justu perkataan bahwa saya otoriter dan emosional. Hah ?!?!

Singkat kata, pertengkaran pun terjadi. Makin lama dan makin keras kami saling adu mulut. Saya makin heran, bingung dan marah sekaligus. Terbesit dalam pikiran saya, “Bagaimana mungkin dia tidak mengerti apa yang saya katakan tadi ?” , “Apakah pertanyaan saya tadi terlalu rumit untuk dia jawab ?”, “Apakah tadi saya betanya dengan nada tinggi ?” .

Akhirnya, setelah suara piring pecah terdengar, barulah pertengkaran itu berhenti.

Stop, tidak ada yang bicara lagi.

Saya ikut diam untuk beberapa saat, hingga amarah saya sedikit reda. Kemudian saya saya tanyakan kembali kepada dia … “Mama tau kenapa tadi papa marah ? ” … Dan kemudian saya takjub dengan jawaban yang dia katakan … “Papa marah karena mama pulang telat dan tidak bilang sebelumnya.” … Hah ?!?!?!

Dengan segala yang sudah terjadi tadi. Dengan ucapan rendah dan tinggi yang saya lontarkan, dia masih blm mengerti kenapa saya marah ?! Dengan sedikit menahan senyum saya kemudian katakan kepadanya … “Papa marah karena mama nda minta maaf karena telah melakukan kesalahan” . Akhirnya dia baru tersadar bahwa pertengkaran yang tadi terjadi sebetulnya hanya dikarenakan sebuah persoalan yang sangar sederhana, yaitu MAAF . Bahkan kesalahan yang dia lakukan, dengan pulang terlambat dengan anak2x, sebetulnya bisa dengan mudah saya maafkan apabila dia dengan sadar dan ikhlas meminta maaf. Bukan karena saya gila maaf, namun karena dengan kata maaf yang terucap dari mulutnya saya bisa tau bahwa dia mengerti soal kesalahannya dan kemudian menyesalinya.

Dikehidupan kita sehari2x kita sebetulnya juga sering melupakan hal remeh ini. Apabila anda secara tidak sengaja menyenggol orang lain saat sedang didalam bus yang penuh, saya rasa ada sedikit ragu untuk kita minta maaf kepada orang tersebut.Bagi saya ini merupakan fenonema yang sangat aneh bagi saya.

Agama yang saya yakini sangat menghargai maaf, entah itu untuk si pemohon ataupun untuk si pemaaf. Bahkan disatu hari yang khusus, saya diperintahkan untuk saling meminta maaf dan memaafkan. Ingat, suatu perintah berarti sesuatu hal yang wajib kita laksanakan bukan ? Dan keimanan kita bisa jadi dipertanyakan kalau kita tidak melaksanakan hal yang wajib. Dan karena itulah saya mo ajak orang2x terdekat saya untuk tidak segan2x meminta maaf apabila kita kuatir telah berlaku salah kepada orang lain.

Sungguh indah apabila maaf bisa dilakoni dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Mah, ILU🙂

5 Comments

  1. maaf of maaf, cinta oh cinta ……. keduanya kan perlahan-lahan menemukan bentuk yang sempurna bila dipupuki dengan kesabaran bukan dengan kemarahan (pujangga karbitan : mode on )😀

  2. sabar sabar yang sabar semua bisa diselesaikan, eh udah selesai ya masalahnya😀

  3. kayaknya malemnya jadi indah nih…😉

  4. @adit
    oh pujangga ….
    @harry
    udh baekan lagi neh🙂
    @nindityo
    kok tau ? huehuehuehuehue

  5. hmpppp…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: